Tentang Ngasa Korea

Tanah Hyang adalah tanah kelahiranku. Suatu daerah pegunungan di Indonesia yang dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa (hyang). Orang-orang kini mengenalnya dengan nama Parahyangan. Di sinilah aku memulai blog pertamaku mengenai banyak hal yang aku jumpai. Seiring berjalannya waktu, ketertarikanku terhadap hal-hal berkenaan dengan Korea semakin menjadi. Ini pun terlihat dari cukup banyaknya tulisan-tulisan yang terkait dengan kebudayaan Korea pada blog tersebut. Sehingga aku memutuskan untuk membuat blog tersendiri yang khusus untuk menampung minat aku akan hal ini. Maka terbitlah Ngasa Korea.

Apa pengalaman pertamamu bersentuhan dengan hal-hal berbau Korea? Kalau aku, jawabannya adalah gunting kuku! Ya, itu benda buatan Korea yang pertama kali aku pegang yang aku ingat. 🙂 Namun pengalamanku awal-awal bersentuhan dengan kebudayaan Korea dapat ditelusuri balik ke masa-masa sekolah ketika game MMORPG mulai masuk ke Indonesia. Game yang sedang tren saat itu adalah Ragnarok Online. Dalam sebuah game terkandung cerita, musik, latar belakang, tokoh, dan unsur-unsur lain yang dipengaruhi oleh kebudayaan negeri pembuatnya. Dari sinilah aku mulai tertarik dengan musik, industri game, dan kebudayaan Korea pada umumnya.

Semenjak kuliah aku mulai belajar membaca aksara Korea (hangeul) dan mempelajari bahasanya. Mempelajari bahasa merupakan pintu gerbang menuju kebudayaan dan nilai-nilai yang dipegang oleh suatu bangsa. Dari bahasa aku mengenal ada tingkatan bahasa hormat, bahasa sopan, dan bahasa akrab. Dari sini tersirat nilai sopan santun yang dipegang oleh bangsa Korea. Bukankah ada kesamaan dengan budaya kita? Bahkan dalam bahasa Sunda pun ada bentuk-bentuk bahasa lemes dan bahasa kasar. Persamaan-persamaan ini membuat bahasa Korea tidak terasa seperti bahasa asing bagiku.

Beruntung karena tempat aku belajar bahasa Korea ini adalah pusat kebudayaan Korea (Korean Cultural Center) yang dibentuk oleh Kementerian Budaya, Olahraga dan Pariwisata Korea, sehingga di sana juga sering diadakan kegiatan kebudayaan yang bisa aku ikuti. Sayang sekali dari betapa luasnya Nusantara, pusat kebudayaan Korea hanya ada satu di ibukota.

Di antara dua bangsa, tentulah tidak sama. Ada juga perbedaan-perbedaan. Apabila persamaan menghasilkan kedekatan, perbedaan membuat aku bisa lebih menghargai kebudayaan Korea, juga menghargai kebudayaan Indonesia. Kita berharga karena kita unik dan berbeda.

Pada blog ini aku ingin berbagi pengalaman dan kisah yang aku jumpai yang berhubungan dengan keunikan budaya bangsa Han, di ibukota, di Parahyangan, di penjuru Indonesia, atau di mana saja aku mengembara. Selamat membaca!

Linimasa Ngasa Korea

2015.04 Artikel pertama seputar serba-serbi Korea yang sebelumnya aku tulis di blog pribadi A Jar of Minds.

2016.01 Blog Ngasa Korea dibuat.

2016.08 Ngasa Korea mendapat alamat domain sendiri di www.ngasakorea.com.

2017.05 Artikel-artikel mulai tersedia dalam terjemahan bahasa Inggris.

2017.09 Blog Ngasa Korea mencapai 1000 pengunjung harian.

Baca lebih lanjut mengenai perkembangan seputar blog ini.